Wednesday, March 21, 2012

South of the Border, West of the Sun

Okay this is review about Murakami's book, again. Since I've promised to myself to finish all of his books. After Sputnik Sweetheart, I continue to South of the Border, West of the Sun. Unlike his more dreamy, surreal fantastic story, this one by Murakami is more realistic. A domestic tale about a Japanese man named Hajime who's married to a woman he's never truly connected with. He always trapped inside his memories about childhood. Reminiscing about his first love: Shimamoto, an attractive girl whom he used to share a love of music and books with and whom he lost touch with decades ago. Someone that he can't get rid off his mind and heart.

In his perfect adult life, in his late thirty age, Hajime got everything that everyone wants too. Beautiful and kind wife with two beautiful daughters, running successful business, money, everything. But deep down in his heart he knows that something's missing. And he begin to longing for his first love, and searching for Shimamoto. No, it's not that kind of melodrama and romantic yet melancholic book, but a book on persistent memories, revised fantasies, and questions that sometimes must remain unanswered. Its a novel about longing, about small pains and aching regrets:

 "But I didn't understand then. That I could hurt somebody so badly she would never recover. That a person can, just by living, damage another human being beyond repair."

 It is, in point of fact, a very subtle ghost story, about being haunted by your own past. It carries the very real sense of always being about things that are just out of its reach, explanations that are never given.

Among 5 books of Murakami that I've read, for me this is the one that touch me most. Because in some part, this book is related to me. And Hajime is just like someone that I used to know. Reading it makes me feel blue and the memories of past suddenly come like movie trailer in my mind. And in some part I was like get some hard slap on my face. And I have no idea why somehow this book can makes my mind messed up for couple days after I finished it (until now, actually). A lot of unanswered things in my head become clearer yet more complicated. Damn.
--

“Hajime,” Shimamoto said as we approached Aoyama Boulevard. “I was thinking back then how nice it would be if the plane didn’t take off.”
     I was thinking exactly the same thing, I wanted to tell her. But I said nothing. My mouth was dry, and words couldn’t come. I merely nodded and reached out for her hand. At the corner of Aoyama 1-chome, she told me to stop the car, and I let her out.
     “May I come to see you again?” she asked me softly as she opened the door. “You can still stand being around me?”
     “I’ll be waiting,” I said. Shimamoto nodded.
     As I drove away, I thought this: If I never see her again, I will go insane. Once she was out of the car and gone, my world was suddenly hollow and meaningless.

Sunday, March 18, 2012

Suatu Sore di Bis Kota

Tadi sore, setelah sekian lama akhirnya saya bersua dengan adik bungsu saya, si Pojan. Walaupun sama-sama berdomisili di ibukota (bohong padahal, satunya Cikarang, satunya Depok), ada saja alasan yang membuat pertemuan saya dan dia terhambat. Akhirnya tadi kami pun bersua di salah satu mall di bilangan ibukota. Pertemuan diisi dengan makan-makan lucu lalu main ke toko buku. Tetapi entah kenapa tadi itu saya merasa lelah dan mengantuk sekali, sehingga tak lama kemudian saya memutuskan untuk pulang selain karena lelah juga karena mall tersebut makin lama terasa makin tidak menyenangkan. Yang ada di dalam pikiran saya: oke, asik nih naik bis ke Cikarang, duduk manis sambil baca The Catcher in The Rye (yang tadi saya beli dengan sangat impulsif di situasi yang sebenarnya harus ngirit) ditambah alunan Spangle call Lilli Line.

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya bis AC 121 itu datang juga, dan begitu naik, ternyata di dalam sudah penuh sesak dengan orang. Saya agak menyesal kenapa tadi tidak langsung naik dari terminal. Dan impian saya pun buyar sudah. Saya terpaksa berdiri dengan puluhan orang lainnya dan sepertinya akan terus begitu hingga sampai di tujuan. Tak henti-hentinya saya misuh-misuh di dalam hati karena harus berdiri lama dan juga karena satu dan lain hal.

Adalah seorang lelaki yang berdiri di sebelah saya. Lelaki tersebut sedang berbicara menggunakan ponselnya, lewat percakapan yang tidak sengaja saya curi dengar, sepertinya dengan temannya.

"Iyalah bro, cuma lo temen gue yang paling baik, yang dukung gue terus"
"Ya gue ga mau ngerepotin emak bapak gue lagi bro, ngga enak gue.."
"Haha nanti gue kabarin deh bro kalo gue udah nyampe, lo mau oleh-oleh apa sih dari kampung?"
"Udah ah bro, gue diliatin orang-orang dikirain ngomong sendiri. Udah dulu ya.. Tos dulu sih.."

Percakapan yang agak 'romantis' itu membuat saya tersenyum. Sederhana, tapi lumayan mengena.

Tak lama saya mengirimkan pesan ke si Pojan
"Berdiri dari Jakarta sampai Cikarang itu sesuatu banget dech"

Ponsel saya berbunyi, balasan dari Pojan, singkat.
"Innallahama'a shabirin"

Pegal-pegal di kaki langsung hilang. Beban saya terasa lebih ringan. Ditambah balasan dari seorang teman atas sebuah keluh kesah yang saya kirimkan sebelumnya.
"You'll make it through. Just appreciate yourself. Cheer up, mir!"

Saturday, March 17, 2012

The Perks of Being a Wallflower

Yesterday I finished this book called "The Perks of Being a Wallflower" by Stephen Chbosky. At first I saw this book in Kinokuniya, there was an urge to buy this book because the cover is so interesting and my friend told me that this book will gonna be filmed soon with Emma Watson as the one of its character. But, back to the fact that I have no money that time (haha) and the fact that for now it's better for me to read a book in pdf format because I can read it at the office when there's no job (scumbag employee), it ended with some googling and downloading. :P

My friend told me that this book is kinda 'hipster'. I didn't know why he said like that until I found out that this book was published by MTV on 1999. And "LOL I'M A HIPSTER" said that Step 11 to be a Modern Hipster is by reading this book. So yeah, I'm a fucking modern hipster now.

 Okay, let's skip the hipster part and back to the book. This book talks about drugs, sex, sexuality, literature, films, music, and daily adolescent life. It consists of the collection of letter from the main character named Charlie, a freshman in the early 1990’s, who decided to wrote to unnamed stranger friend he barely know since his bestfriend died by suicide. He wrote to that stranger friend to know that someone out there listens and understands and doesn’t try to sleep with people even if they could have. He wrote about what he went through, his thought, his sadness and happiness, his family, his friend, and his love life. From the letters we may see that Charlie is too sentimental, melancholic, and naive. Following his meeting with Sam and Patrick, two seniors who become his best friends, Charlie begins to experience more of life.

When I read it, sometimes Charlie really pissed me off because he is way too sentimental. It took me a long time to finish this book. But overall, the book has the quality of getting the readers sympathy to what was the characters are getting from each of his experiences. But if you expect to have great satisfaction and book-orgasm or read-orgasm thingy, I think you better search for another book, because I haven't got it from this book. The movie will be released on September, and I think that Emma Watson is really suitable with Sam character. Just like in my imagination.

-- 

"It's like when you are excited about a girl and you see a couple holding hands, and you feel so happy for them. And other times you see the same couple, and they make you so mad. And all you want is to always feel happy for them because you know that if you do, then it means that you're happy, too."

"It's just that sometimes people use thought to not participate in life."


"We accept the love we think we deserve."


"I guess we are who we are for a lot of reasons. And maybe we'll never know most of them. But even if we don't have the power to choose where we come from, we can still choose where to go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them."
 


Thursday, March 01, 2012

we'll still be best friends when all turns to dust!

 

Tuhan, terimakasih telah memberikan orang-orang yang baik hati untuk menemani dan mendengarkan selalu keluh kesah saya. Orang-orang yang biasa disebut dengan 'teman'. Tanpa keberadaan mereka, mungkin kehidupan perkuliahaan akan tak lebih dari sekedar bunch of boring deadlines. Mereka adalah teman bermain, teman makan-makan, teman nyontek tugas, teman belajar bareng, teman ngobrol ngalor ngidul ngga jelas, teman apa lagi ya, teman perjalanan.



Bersama manusia-manusia ini sudah banyak sekali yang dilewati: menumpang tidur di rumah orang asing di Ujung Genteng, lalu menelusuri pantainya hingga kulit gosong. Melawan arus dan memanjat tebing-tebing di Green Canyon lalu mandi-mandi lucu di Citumang dan bikin film tolol di Batu Karas. Snorkling di Kepulauan Seribu lalu berdoa bersama di atas kapal dalam perjalanan pulang ke Muara Angke yang badainya dahsyat. Jalan kaki random sampai Taman Yosemite di Padalarang sana. Berendam air panas sambil main truth or dare di tengah malam di Lembang sana. Jadi anak SD selama 3 hari di kampus. Wisata kuliner di bandung, menonton film tengah malam, meniup lilin ulangtahun dan lainnya.. Entah mengapa segala obrolan-obrolan ngga penting dengan mereka dan kata-kata pamungkas (s***p) pasti selalu sukses bikin ketawa sampai rahang pegal.



Kemarin, setelah lama ditelan kesibukan masing-masing (ada yang kerja, ada yang masih berjuang TA, ada yang bisnis, dsb dsb) akhirnya waktu mempertemukan kami kembali. Ini jalan-jalannya kebanyakan gejenya sebenernya. Tapi yang penting bukan tujuannya, tapi perjalanannya dan bareng-barengnya. Ke Pangalengan secara random karena itu tempat paling dekat dari villa tempat menginap. Ke Situ Cileunca hasil googling objek wisata Pangalengan, lalu nyebrang ke kebun arbei yang ternyata garing abiesz. Lalu nyasar di kebun teh Cukul yang jalanannya ngerih udah kaya di atas awan dan akhirnya sampai di villa dan makan malam yang nikmat sekali hasil masakan Dona dibantu saya dan Nindy. Lanjut main Capsa hingga rahang pegal kebanyakan ketawa dan saya tersenyum menang karena tidak pernah kalah sekalipun. Hahaha.

 

 Ah, akhir pekan kemarin menyenangkan sekali sampai-sampai di hari senin saya kembali ke kantor dengan semangat padahal biasanya senin pagi udah nguap2 trus langsung cepet-cepet bikin kopi.

Dona nyeletuk gini di perjalanan,
"Nanti kalau udah pada kerja, kita ngumpul buat jalan-jalannya udah bukan di kampus lagi, ntar langsung ngumpul di bandara Soekarno Hatta aja.. hahahaha "

 Semoga masih ada perjalanan-perjalanan lain bersama-sama. We'll still be best friends when all turns to dust! Gitu katanya The Morning Benders mah.. :)

foto: Ibun & Luqman

Thursday, February 23, 2012

Sputnik Sweetheart

Semenjak lulus, tepatnya semenjak bekerja, saya jarang sekali bisa menamatkan suatu buku. Boro-boro tamat, biasanya suatu buku berakhir naas di tengah perjalanan dan tidak saya sentuh kembali karena mood membaca tiba-tiba menguap secara mistis. Maka saya terheran-heran ketika bulan ini (hingga saya mengetik postingan ini) saya telah menamatkan 4 buah buku. Prestasi yang luar biasa bukan? Bukan. Hahaha. Saya akhirnya mendapati bahwa melarikan pikiran sejenak dan menenggelamkannya ke dalam suatu buku merupakan cara yang paling efisien untuk melupakan sejenak rasa resah yang selalu menghantui belakangan ini. 

Saya sedang jatuh cinta dengan karya-karya seorang penulis jepang bernama Haruki Murakami.
Berawal dari Kafka on The Shore, lanjut Norwegian Wood, saya langsung jatuh cinta dan penasaran dengan karya-karyanya yang lain. After Dark dan Sputnik Sweetheart adalah dua yang berhasil saya khatamkan di bulan ini, tapi sekarang mari kita bahas tentang si Sputnik Sweetheart.

Cover versi tidak vulgar. Versi yang saya baca bergambar wanita nude :P

Pernahkah kamu merasa benar-benar kehilangan akan sesuatu? Sesuatu yang benar-benar berharga. Mungkin dulu semasa 'sesuatu' itu masih ada, kamu tidak menyadari makna kehadirannya dan tidak menyadari bahwa akan sebegitu menyakitkannya ketika ia menghilang. Vanished, like a smoke. Rasa kehilangan itu yang menjadi tema besar dalam buku ini. Miu, seorang wanita mapan, yang kehilangan sesuatu dalam dirinya, yang menjadikannya merasa setengah hidup. K, sudut pandang 'aku' dalam buku ini yang kehilangan Sumire. Dan Sumire, seorang gadis yang menurut saya keren sekali- yang sangat hobi menulis dan segala sesuatu yang berbau literatur, yang tiba-tiba kehilangan sesuatu dalam dirinya ketika mulai jatuh cinta kepada Miu, membuatnya tak lagi bisa menulis, bahkan membaca buku.

"Imagine The Greatest Hits of Bobby Darin minus 'Mack the Knife', That's what my life would be like without you."

Sama seperti buku-buku Haruki Murakami yang lain, saya bengong dan melamun lama setelah selesai membaca Sputnik Sweetheart ini. Hal yang saya sukai dari karya-karyanya adalah ceritanya yang penuh dengan hal-hal absurd yang terkadang (sering malah) tidak saya pahami. Membuat saya bertanya-tanya apa maksud di balik itu semua. Membaca buku-bukunya membuat saya merasa sedang bermimpi, mimpi panjang yang absurd dan surreal, dan ketika terbangun kepala saya dipenuhi dengan begitu banyak pertanyaan yang jawabannya entah ada di mana. Perasaan yang menyenangkan. Selain itu, Haruki selalu sukses membangun karakter-karakter yang kuat dalam ceritanya. Dengan background hidup yang kebanyakan kelam.

Saya menyadari betul bahwa kebanyakan review buku yang saya tulis ujung-ujungnya selalu membuat si bukunya terlihat tidak semenarik yang saya baca. Akan tetapi seseorang pernah berkata, tulislah apapun mengenai buku yang telah kamu baca, agar ingatan tentang buku itu tidak hilang begitu saja. Scripta manent verba volant. Tapi percayalah, terlepas dari review saya yang kacangan ini, Sputnik Sweetheart ini sangat recommended. Jauh-jauh lebih keren daripada yang saya gambarkan di sini :) 
---

Tomorrow  I’ll  get  on  a  plane  and  fly  back  to  Tokyo.  The summer holidays are nearly over, and I have to step once more in  that endless  stream of  the everyday. There’s a place  for me there.  My  apartment’s  there,  my  desk,  my  classroom,  my pupils.  Quiet  days  await  me,  novels  to  read.  The  occasional affair.

But  tomorrow  I’ll  be  a  different  person,  never  again  the person  I  was.  Not  that  anyone  will  notice  after  I’m  back  in Japan. On the outside nothing will be different. But something inside has burned up and vanished. Blood has been shed, and something  inside  me  is  gone.  Face  turned  down,  without  a word,  that  something makes  its  exit. The door opens;  the door shuts. The light goes out. This is the last day for the person I am right  now.  The  very  last  twilight.  When  dawn  comes,  the person I am won’t be here any more. Someone else will occupy this body.


*


Why do people have  to  be  this  lonely? What’s  the point  of  it  all?  Millions  of  people  in  this  world,  all  of  them  yearning, looking  to  others  to  satisfy  them,  yet  isolating  themselves. Why? Was the Earth put here just to nourish human loneliness? I  turned  face-up on  the  slab of  stone, gazed  at  the  sky,  and thought about all the man-made satellites spinning around the Earth.  The  horizon was  still  etched  in  a  faint  glow,  and  stars began  to  blink  on  in  the  deep,  wine-coloured  sky.  I  gazed among them for the light of a satellite, but it was still too bright out  to  spot  one  with  the  naked  eye.  The  sprinkling  of  stars looked  nailed  to  the  spot,  unmoving.  I  closed  my  eyes  and listened  carefully  for  the  descendants  of  Sputnik,  even  now circling  the  Earth,  gravity  their  only  tie  to  the  planet.  Lonely metal  souls  in  the  unimpeded  darkness  of  space,  they meet, pass  each  other,  and  part,  never  to  meet  again.  No  words passing between them. No promises to keep.

Sunday, February 19, 2012

Tentang melihat gadis sempurna 100% di suatu pagi yang indah di bulan April

oleh: Haruki Murakami

Suatu pagi yang indah di bulan April, di pinggir jalan sempit lingkungan modern di Harajuku, Tokyo, aku berpapasan dengan gadis sempurna 100%.

Jujur, dia tidak begitu cantik. Dia tidak luar biasa atau bagaimana. Pakaiannya tak ada yang spesial. Rambut bagian belakangnya masih acak-acakan seperti bangun tidur. Dia tidak muda juga, pasti sudah mendekati kepala tiga, bahkan sebenarnya tak bisa lagi disebut sebagai gadis. Tetapi tetap saja, aku tahu dari sejak jarak 50 yard bahwa dia adalah gadis sempurna 100%-ku. Di momen aku melihatnya, ada getaran di dadaku, dan bibirku kering seperti gurun pasir.

Mungkin kau punya tipe favorit tertentu untuk gadis sempurnamu - seseorang dengan pergelangan kaki kecil, mungkin, atau bermata lebar, atau jari-jari yang lentik, atau dengan alasan tidak jelas kau tertarik pada gadis yang makannya begitu lambat. Aku punya preferensiku sendiri tentu saja. Kadangkala di restoran aku tak sadar memerhatikan seorang gadis di meja depanku hanya karena aku suka dengan bentuk hidungnya.

Tapi tidak seorang pun dapat memaksa bahwa gadis sempurna 100%-nya cocok dengan suatu tipe yang sudah ada sebelumnya. Seperti juga aku yang suka dengan hidung, meski aku tak bisa mengingat lagi bentuk hidungnya - atau bahkan dia punya hidung atau tidak aku tak ingat. Yang dapat kuingat dengan pasti adalah bahwa dia tidak begitu cantik. Aneh.

“Kemarin di jalan aku berpapasan dengan gadis sempurna 100%,” aku memberitahu seseorang.
“Yeah?” dia berkata. “Cantik?”
“Nggak juga.”
“Tipe favoritmu?”
“Aku tak tahu. Aku sepertinya tak ingat apapun tentang dia - bentuk matanya atau ukuran dadanya.”
“Aneh.”
“Ya. Aneh.”
“Jadi bagaimana,” dia berkata, sepertinya sudah bosan, “apa yang kau lakukan? Ngobrol dengannya? Mengikutinya?”
“Ah tidak. Hanya berpapasan dengannya di jalan.”
Dia berjalan dari timur ke barat, dan aku dari barat ke timur. Benar-benar pagi yang indah di bulan April.

Seandainya aku bisa mengajaknya bicara. Setengah jam cukup lama: bertanya tentang dirinya, membicarakan diriku, dan - apa yang ingin sekali kulakukan - menjelaskan kepada dia tentang kerumitan takdir yang telah mengantar kita hingga berpapasan di pinggir jalan Harajuku di suatu pagi yang indah di bulan April tahun 1981. Ini merupakan sesuatu yang pasti seperti rahasia-rahasia hangat yang penuh sesak, seperti jam antik yang dibuat saat kedamaian memenuhi seluruh bumi.
Setelah mengobrol, kita makan malam di suatu tempat, lalu mungkin menonton filmnya Woody Allen, berhenti di suatu bar hotel untuk minum koktail. Jika beruntung, mungkin kita berakhir di ranjang.

Kemampuan mengetuk pintu hatiku.
Sekarang jarak di antara kita menyempit menjadi 15 yard.
Bagaimana aku mendekatinya? Apa yang harus aku katakan?
“Selamat pagi, nona. Bisakah kau menyisihkan setengah jam untuk mengobrol sebentar?”
Menggelikan. Aku terdengar seperti sales asuransi.
“Permisi, mungkinkah kau tahu di mana ada tempat laundry 24 jam di sekitar sini?”
Tidak, ini sama saja menggelikannya. Aku tak membawa pakaian untuk dilaundry, satu hal yang pasti. Dan siapa yang bisa percaya dengan hal seperti itu?

Mungkin kejujuran dapat membantu. “Selamat pagi. Kaulah gadis sempurna 100% untukku.”
Tidak, dia tidak akan percaya. Atau bahkan jika dia percaya, dia tak akan mau berbicara denganku. Maaf, dia akan berkata seperti ini, mungkin akulah gadis sempurna 100% untukmu, tapi kau bukan laki-laki sempurna 100% untukku. Itu bisa terjadi. Dan jika itu sampai terjadi, aku mungkin akan hancur berkeping. Aku tak akan pulih dari keterkejutanku. Aku 32 tahun, dan seperti itulah rasanya menjadi tua.

Kita berpapasan di depan toko bunga. Udara yang hangat semilir menyentuh kulitku. Jalanan beraspal basah, dan aku mencium wangi mawar. Aku tak bisa membawa diriku untuk berbicara dengannya. Dia memakai sweater putih, dan di tangan kanannya ia membawa amplop putih kering yang belum diberi perangko. Jadi, dia menulis surat untuk seseorang, dilihat dari matanya yang mengantuk mungkin ia menghabiskan semalaman untuk menulisnya. Amplop itu bisa jadi berisi semua rahasia-rahasianya.

Aku mengambil beberapa langkah dan berputar: Dia hilang di antara kerumunan.
Sekarang, tentu saja, aku tahu apa yang seharusnya aku katakan kepadanya. Akan menjadi pidato yang panjang, dan terlalu panjang untukku agar bisa dikatakan dengan baik. Ide-ide di kepalaku memang tidak pernah begitu praktis.

Ah, baiklah. Ini akan dimulai dengan “Pada suatu waktu” dan diakhiri dengan “Kisah yang menyedihkan, bukan?”

Pada suatu waktu, hiduplah seorang laki-laki dan gadis. Laki-laki itu berumur 18 dan gadis itu 16 tahun. Laki-laki itu tidak begitu tampan, dan gadis itu tidak begitu cantik. Mereka hanyalah laki-laki biasa yang kesepian dan gadis biasa yang kesepian, seperti semua orang. Tetapi mereka percaya dengan sepenuh hati bahwa di suatu tempat di dunia hiduplah laki-laki sempurna 100% dan gadis sempurna 100% yang dicipta untuk mereka seorang. Ya, mereka percaya dengan mukjizat. Dan mukjizat itu benar-benar terjadi.

Suatu hari dua orang manusia itu bertemu di suatu sudut jalan.

“Ini luar biasa,” laki-laki itu berkata. “Aku telah mencarimu sepanjang hidupku. Kau mungkin tak bisa mempercayai ini, tetapi kau adalah gadis sempurna 100% untukku.”
“Dan kau,” gadis itu berkata kepadanya, “adalah laki-laki sempurna 100% untukku, benar-benar cocok seperti yang aku bayangkan tiap detailnya. Ini seperti mimpi.”
Mereka duduk berdua di sebuah bangku taman, berpegangan tangan, dan saling bercerita berjam-jam. Mereka tak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh manusia sempurna 100%-nya. Ini mukijizat, mukjizat kosmis.

Saat mereka duduk dan bercengkerama berdua, tiba-tiba, seiris kecil keraguan mengakar di hati mereka: Apakah benar boleh impian seseorang bisa tercapai dengan begitu mudah seperti ini?
Dan kemudian, saat datang keheningan sementara dalam percakapan mereka, si laki-laki berkata kepada si gadis, “Mari kita menguji diri kita - sekali ini saja. Jika kita memang adalah pecinta sempurna 100% untuk tiap kita, maka di suatu hari, di suatu tempat, kita pasti akan bertemu kembali. Dan saat itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang sempurna 100%, kita akan langsung menikah. Bagaimana menurutmu?”
“Ya,” gadis itu menjawab, “itu hal yang harus kita lakukan.”
Dan mereka pun berpisah, gadis itu ke timur, dan laki-laki itu ke barat.

Pengujian yang mereka setujui, bagaimanapun, adalah hal yang benar-benar tidak perlu. Mereka seharusnya tak pernah melakukannya, karena mereka sesungguhnya adalah pasangan yang sempurna 100%, dan benar merupakan suatu mukjizat bahwa mereka bisa bertemu. Tapi ini adalah hal yang mustahil untuk mereka ketahui, mereka masih muda. Gelombang takdir yang dingin dan acuh tak acuh melemparkan mereka tanpa ampun.

Di suatu musim dingin, baik laki-laki dan gadis itu terkena influenza parah, dan setelah diterpa angin terombang-ambing antara hidup dan mati selama berminggu-minggu mereka kehilangan ingatan tentang tahun-tahun awal kehidupan mereka. Saat sadar, kepala mereka kosong seperti celengan babi D. H. Lawrence muda.

Bagaimanapun mereka adalah pemuda-pemudi yang pandai dan tekun, dan setelah menjalani usaha yang tak henti-hentinya mereka pun mampu untuk mendapatkan kembali pengetahuan dan perasaan yang memenuhi syarat untuk bisa kembali menjadi anggota penuh masyarakat. Surga dimuliakan, mereka menjadi anggota masyarakat yang terpandang yang mampu berpindah dari satu jalur subway ke jalur yang lain, yang mampu mengirim surat pengiriman kilat di kantor pos. Ya, tentu saja mereka bahkan mampu mengalami cinta lagi, kadang sampai cinta 75% atau bahkan 85%.
Waktu berjalan dengan kecepatan yang mengejutkan, dan tiba-tiba laki-laki itu berumur 32, dan gadis itu 30 tahun.

Di suatu pagi yang indah bulan April, saat mencari secangkir kopi untuk memulai hari, si laki-laki sedang berjalan dari barat ke timur, dan si gadis, bermaksud untuk mengirim surat kilat, berjalan dari timur ke barat, tetapi di jalan sempit yang sama di lingkungan Harajuku di Tokyo. Mereka saling berpapasan di tepat tengah-tengah jalan itu. Kilatan cahaya redup dari memori mereka yang hilang menyala samar-samar dengan singkat di tiap hati mereka. Mereka berdua merasa ada getar di dada.

Dan mereka tahu:
Gadis itu adalah gadis sempurna 100% untukku.
Laki-laki itu adalah laki-laki sempurna 100% untukku.
Tetapi nyala cahaya memori mereka terlalu lemah, dan pikiran mereka tak lagi memiliki kemurnian 14 tahun yang lalu. Tanpa kata terucap, mereka saling berpapasan, hilang di antara kerumunan.
Selamanya.
Kisah yang menyedihkan, bukan?
Ya, seperti itu, itulah yang seharusnya aku katakan kepadanya.

diterjemahkan oleh Dondy Arizona Harhara dari "On Seeing 100% Perfect Girl One beautiful April Morning"

Tuesday, February 07, 2012

bahagia itu sederhana

beberapa minggu belakangan ini saya banyak berpikir, tentang apa sebenarnya makna hidup, apa itu kebahagiaan, dan sebagainya. because life's too cruel and mean to me lately. and I can't stop whining about how pathetic I am..

kemudian saya tersadar, bahwa kebanyakan orang (termasuk saya) cenderung mengukur kebahagian berdasarkan hal-hal besar yang belum mereka raih: materi, jabatan, kedudukan, strata sosial, cinta...
padahal sesungguhnya bahagia itu sederhana sekali. bukan diukur dari seberapa banyak hal-hal besar yang telah kita raih, tapi seberapa banyak hal-hal kecil yang mampu kita syukuri. sesederhana itu.

sesederhana suara ibu dan keluarga di seberang pulau sana, siraman air wudhu di subuh hari, semprotan parfum pertama di pagi hari, sapaan 'selamat pagi' yang tulus diberikan oleh acong, office boy di kantor, segelas kopi sambil membaca e-mail di pagi hari yang tidak terlalu sibuk, lagu kesukaan yang tiba-tiba diputar oleh music player dalam mode shuffling, bincang ringan dengan penghuni kubikel, aroma buku baru, aroma blus batik baru, sms dan chatting dengan teman lama, obrolan dengan nindy dan luqman di kamar luqman yang berantakan, aroma hujan, melihat langit senja bersama teman-teman di atap kantor sebelum maghrib, suasana supermarket, teh tarik di malam hari, seprai yang baru diganti, menulis code tanpa error, rilis aplikasi pertama, menu kantin yang terkadang enak, selesai mendownload episode baru the big bang theory, mms dan link foto kucing-kucing lucu dari papa dan cingu, mendengarkan lagu jazz yang rumit tapi somehow terdengar harmonis, mendengarkan toe sambil melamun, teman-teman yang entah bagaimana caranya dengan mistis bisa membuat bibir ini selalu melengkung..

terimakasih.. Alhamdulillah.. my heart's full. siap menyongsong hari esok yang penuh dengan ilmu pengetahuan (haha).